Kok Nikahnya Aneh Banget?

Posted on

Beberapa masyarakat mungkin akan berkomentar seperti hal diatas ketika melihat dekorasi dan pelaksanaan pernikahan syar’i, yang dari awal sampai akhir benar2 berjalan diatas koridor sunnah. Berikut saya berikan ilustrasi percakapan tersebut dan cara menjawabnya :

loading...

# Kondisi mempelai laki-laki dan wanita :
Tamu : “Mempelai laki-lakinya kemana? kok tidak ada di kursi pelaminan? Ini gimana mau salaman”
Panitia : “Tadi sudah adzan pak. Mempelai laki-lakinya sudah bergegas shalat berjama’ah di Masjid dahulu. Nanti akan segera kesini lagi…”
Tamu : “Wah padahal saya ingin langsung memberi ucapan selamat”
Tamu : “Sabar pak. Katanya shalat jamaah itu wajib, sedang walimah sunnah. Beliau ingin mendahulukan yang wajib. Bapak bisa mengambil makanan dulu sembari menunggu”
Tamu : “Kalau mempelai wanitanya mana?”
Panitia : “Beliau masih di kamar pak. Katanya malu kalau menyambut tamu tanpa sepengetahuan dan seizin suaminya. Pengennya bareng2, walau dipisah ruangan”

# Kondisi menjelang akad
Penghulu : “Lhoh calon istrinya mana? kok tidak ada? Biar bisa dimulai akad nikahnya.”
Mempelai laki-laki : “Calon istri saya memang di dalam kamar pak, bersama keluarganya. Belum dihalalkan untuk saya, jadi masih dipisah dulu. Tidak ikut akad”
Penghulu : “Wah, padahal cuma gitu doang lho pak”
Mempelai laki-laki : “Maaf pak, kami berdua benar2 ingin menjaga rasa malu kami sampai akhir. Sampai akhirnya dia sah menjadi istri saya. Nah pak, monggo segera dimulai biar segera halal”

# Kondisi di penerimaan tamu
Panitia : “Maaf pak, disini khusus untuk tamu wanita. Sedangkan untuk tamu laki-laki ikut lajur disana.” •
Tamu : “Lho…kok tamunya dipisah begini? Istri saya bagaimana, dipisah juga? Nanti repot kalo ngajak pulangnya, apalagi dia bawa anak.”
Panitia : “Dipisah biar tidak ada ikhtilat (campur baur). Itu permintaan dari kedua mempelai agar mereka tidak menjadi jalan dosa jikalau tamu ibu2 cantiknya diliatin sama tamu laki-lakinya. Kalo bapak mau panggil istri bapak, biar kami yang memanggilkan.”
Tamu : “Lhoh, walimahannya kok sepi kayak kuburan? Biasanya bunyi musik2 dangdutnya keras…”
Panitia : “Maaf pak, insyaAllah pihak mempelai tidak memakainya agar tidak mengganggu hak2 tetangga yang ingin tetap khusyuk menjalankan rutinitasnya. Siapa tahu ada tetangga yang sakit sehingga bertambah parah ketika mendengar musik2 yang keras, yang distel sepanjang hari. Pihak mempelai tidak ingin berlaku dzalim.”

loading...